dua kerat roti, tersia sia didalam mangkuk alumunium bekas rumah makan didepan sana. ingin rasanya kuberikan kepada dirimu, tapi sepertinya roti ini terlalu kumuh utk digenggam ditanganmu yang gemuk, putih dan bersih itu.
dua gelas air putih, dingin, yang beraroma besi yang kuambil dari sumur dibelakang rumah dan airnya terus menetes melalui retakan karena tersenggol kucing kampung tadi pagi. ingin rasanya kuberikan kepada dirimu, tapi tampaknya gelas air putih ini terlalu buruk utk diminum dibibirmu yang mungil dan memerah itu.
dan hari demi hari, makin terasa setiap udara yang kuhirup, angin yang kubelai, tanah yang kuinjak, api yang kunyalakan, semakin terasa tak nyata.
membuat segala mejadi tak berirama, kaku dan kehilangan makna.
membuat ku mempertanyakan kaktus mengapa dia berduri; mempertanyakan denting piano tua ku mengapa bersuara sumbang;
mempertanyakan hatiku, mengapa masih terdiam dan termangu merenungkan sesuatu yang sesungguhnya seterang matahari pagi, sejelas batu kali didasar sungai, sehijau lumut yang menempel dipinggiran dinding dekat tanaman kacang2an dibelakang rumah.
terpandang dihadapan ku dua kerat roti dan dua gelas air, yang mulai meragi dan terkuras habis..
everything goes to nothing.
jadi ini ya epilog dari sebuah ketergesaan yang tak terpikirkan dan tak terbayangkan bisa terjadi pada sebuah hal yang pada suatu masa pernah terasa memabukkan dan menggugah mimpi.
everything goes to nothing.
kelak kan ku ambil kembali roti dalam mangkuk alumunium kumuh itu, dan air dalam gelas retak ini; kan kubawa mereka didalam kepalaku, didalam mataku, didalam dadaku.
everything goes to nothing.
everything goes to nothing.